Jumat, Juni 10, 2011

KETERBATASAN FISIK BUKAN HALANGAN UNTUK BERKARYA BESAR

Seperti biasa pada kesempatan pulang (oh ya rumah saya di daerah Kabupaten Blitar, sementara tempat bertugasku hingga saat kutulis ini di daerah Papua tepatnya di kota Timika) ada tugas rutin mengantar dan menjemput 'pasukan-pasukanku' di sekolah. Sore itu ketika sedang menunggu anak-anak keluar, secara tak sengaja bertemu salah seorang pengajar tepatnya seorang ustadz baru keluar dari mushola dekat sekolah, diiringi celoteh riang anak-anak. Tampaknya baru selesai kegiatan pengajian rutin sore itu. Segera saja kusalami dan berjabat tangan dan ustadz dengan ramah yang memang senyumnya selalu menghiasi wajahnya. "Assalamu alaikum...apa kabar?" demikian sapanya. "Wa alaikum salam..baik, alhamdulillah ustadz.." jawabku. "Namanya Ustadz Handoko, lengkapnya Wahyu Handoko, atau biasa dipanggil Pak Han", demikian kata istriku ketika aku tanyakan suatu waktu. Beliau itu, lanjut cerita istriku, pendiri yayasan itu (Yayasan Al-Hikmah, Bence-Garum, Blitar,pen).

Jika saja kondisi beliau biasa saja, mungkin tidak begitu ada yang istimewa atau kesan khusus di hatiku. Namun yang sangat memberikan kesan yang cukup mendalam adalah kondisi fisik beliau yang -ma'af- kurang sempurna, justru mampu berkiprah sebagaimana atau bahkan melebihi orang normal lainnya.

Selepas SMA, Handoko ingin menjadi insinyur. Orangtuanya meminta dia masuk fakultas kedokteran atau fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. “Saya bilang kepada orangtua bahwa masuk kedokteran tidak mudah dan saya tidak suka menjadi guru. Saya pernah masuk Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang. Di tahun kedua, tahun 1988, saya pindah ke Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang,” ujarnya.

Kuliah di Unibraw hanya lancar sampai pertengahan semester tiga. Suatu hari, saat pemanasan menjelang bermain badminton, otot panggul kanannya terkilir. Cedera itu menjadi awal penderitaannya. “Cedera itu berkembang menjadi penyakit yang selama bertahun-tahun tidak saya ketahui namanya,” katanya.

Berbagai upaya pengobatan dilakukannya. Berbagai diagnosis disampaikan kepadanya. Sampai akhirnya salah seorang dokter mendiagnosis dia terkena penyakit radang sendi yang menjalar.

“Tahun 1991, selama enam bulan saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Seluruh tubuh, dari kaki sampai leher, tidak bisa digerakkan. Saat itu saya hampir menyerah menghadapi penyakit ini dan merasa masa depan sudah tidak ada. Tahun 1992 saya terpaksa berhenti kuliah karena tidak bisa bergerak,” ucapnya.

Akhir tahun 1992, penderitaannya berangsur berkurang. Ia bisa bergerak lebih leluasa. Sampai saat ini panggul sampai lehernya tidak bisa digerakkan. Tangannya pun tidak bisa diangkat lebih tinggi dari dada.

Begitu bisa bangun dari tempat tidur, Handoko tak mau berdiam diri. Saat berkunjung ke rumah salah seorang kawannya, ia diminta membantu mengajar anak-anak mengaji. “Setelah beberapa kali, saya berpikir mengapa tidak dilakukan di kampung sendiri,” tuturnya.

Di Desa Bence, ia menyampaikan ide itu kepada Ustadz Ali Mahmud yang kemudian meminjamkan ruang tamu rumahnya untuk Taman Pendidikan Al Quran (TPA). “Saya bukan orang yang terlalu pandai mengaji, tetapi saya ingin membagikan sedikit pengetahuan itu kepada orang lain. Saya juga merasa hidup kembali setelah menjadi guru,” katanya.

Dalam beberapa bulan, muridnya bertambah sehingga semakin banyak ruang di rumah Ustadz Ali yang terpakai. Ustadz Ali bahkan terpaksa membuat ruang baru untuk keperluan keluarganya.

Setelah murid semakin banyak, Ustadz Ali menyerahkan tanah seluas 300 meter persegi untuk dikelola sebagai TPA yang dipimpin Ustadz Handoko. Di tanah itu dibuat bangunan yang bisa disekat menjadi empat ruangan. Sesekali, gedung itu dipakai untuk kegiatan warga.

Dengan waktu aktif terbatas, ia dan sebagian pengajar TPA berpikir untuk memanfaatkan gedung agar lebih optimal. Selain itu, sebagian orangtua murid merasa dampak pengajaran keagamaan dan moral di TPA itu tidak optimal karena waktu anak di TPA hanya 1,5 jam. “Kami dan sebagian warga berpikir sekolah formal akan lebih dihargai. Akhirnya, kami mendirikan yayasan dan mulai membuka TK pada akhir 1998,” ujarnya. Cikal bakal yayasan itu adalah tempat Ustadz Handoko mengajar 25 anak desa setempat mengaji. Tempatnya pun menumpang di rumah salah seorang warga desa.

Awal 2001, yayasan itu membuka SD. Sebagian guru TK diminta mengajar di SD itu. “Saya bersyukur ada saja yang membantu sekolah kami. Sekarang, sekolah kami menjadi sekolah laboratorium Konsorsium Pendidikan Islam,” tuturnya.

Untuk membuktikan itu, ia memilih jalan sebagai pengelola sekaligus guru di Yayasan Pendidikan Al Hikmah, Blitar, Jawa Timur. “Padahal, dulu saya benci sekali bila diminta sekolah guru. Sekarang saya menemukan diri saya bisa bermanfaat dengan menjadi guru,” tuturnya. Kebahagiaan Ustadz Handoko dilengkapi dengan kehadiran putra pertamanya, M Safiq Yasir, yang saat ini berusia 5 tahun. Yasir adalah buah perkawinannya dengan Lilis Suryani, guru di SD Al Hikmah, yang disuntingnya pada 22 Oktober 2004.

“Saya ingin membuat sekolah ini lebih bermutu dan berkembang. Suatu saat penyakit saya akan menyebar ke seluruh tubuh dan saya akan kesulitan bergerak. Namun, sebelum saat itu tiba, saya tidak mau berhenti,” tutur putra pertama pasangan Abdul Somad dan Masidatul ini.

“Saya dan adik saya mendapatkan kebahagiaan dengan melakukan ini,” ujar Ustadz Handoko.

Saat ini Yayasan ini (Yayasan Pendidikan Islam Terpadu Al-Hikmah Blitar) mengelola sekolah menengah pertama (SMPIT), sekolah dasar (SDIT), taman kanak-kanak(TKIT), dan kelompok bermain (KBIT)di Desa Bence, Kecamatan Garum, Blitar. Sebanyak lebih dari 300 murid diajar oleh 29 guru yayasan tersebut. Dalam rentang waktu yang relatif muda dibanding sekolah-sekolah lain, sekolah di yayasan tersebut cukup fenomenal, prestasi para lulusannya bahkan dapat melampaui sekolah-sekolah lain, termasuk SMPIT yang saat ini sudah meluluskan untuk yang kedua kali, dengan nilai rata-rata hasil UAN (Ujian Akhir Nasional-pen) tertinggi di Kabupaten Blitar. Besar harapan para wali murid untuk terus mengembangkan sekolah tersebut, karena terbukti cukup berkualitas.

Ya, hasil ini tak lepas kerja keras rintisan Ustadz Handoko (dengan izin Alloh) walau dengan segala keterbatasan namun dengan semangat pantang menyerah, sama sekali tidak menghalangi beliau untuk berkarya besar dan bermanfaat bagi orang lain...

Saudaraku..mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dari semangat beliau, bisa lebih bersyukur atas segala karunia Alloh SWT yang diberikan kepada kita...Bukankah Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasallam bersabda,” …Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia” (HR. Thabrani dan Daruquthni, dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin al Albany dalam “ash shahihah"-nya). Wallohu a’lam.

(Sebagian bersumber dari Kompas, 2006)

Rabu, Juni 08, 2011

ORANG BERIMAN CERMIN YANG JERNIH

Cermin adalah sebuah benda yang rasanya hampir ada disetiap rumah. Ia selalu digunakan oleh kita. Namun tidak banyak orang yang mampu menarik ibroh (pelajaran) daripadanya untuk meniti kehidupan didunia ini. Baik dalam meningkatkan kualitas diri maupun dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam hadits diatas dikatakan bahwa, seorang mu’min adalah cermin bagi saudaranya yang mu’min, artinya seorang mu’min harus menjadikan mu’min yang lainnya sebagai tempat untuk berkaca (melihat) keadaan dirinya. Karena sesungguhnya cermin akan menggambarkan keadaan orang yang berdiri dihadapannya dengan apa adanya. Disini berarti kita menjadikan mu’min yang lainnya untuk berkaca terhadap setiap kekurangan kita. Bukankah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadits ; “Agama itu adalah nasihat, beliau katakan itu tiga kali. Kami bertanya ; Untuk siapa ya Rasulullah ?Beliau menjawab; Untuk Alloh, untuk Rosul-Nya, dan untuk para Imam (pemimpin) serta untuk kaum muslimin.” (HR. Muslim). Sebagai cermin seyogyanya seorang mu’min mampu menampilkan sosok cermin terhadap orang yang bercermin kepadanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ; “Maukah kutunjukkan kepadamu sebaik-baik manusia ? Para sahabat menjawab, mau ya Rasulullah. Beliau bersabda, yaitu orang yang apabila kamu memandanginya maka akan menjadikan kamu ingat kepada Alloh.” (HR.Ibnu Majah).
Dalam memainkan peranan sebagai cermin, seorang mu’min harus terlebih dahulu memahami karakteristik sebuah cermin. Agar cermin yang tampak adalah cermin yang datar (menampilkan apa adanya) serta jernih (bersih dan tidak menutupi). Beberapa karakteristik cermin tersebut antara lain :
Pertama, kelemah lembutan.
Cermin didalam menampakkan bentuk orang yang bercermin tidak pernah kasar dan membentak, tapi ia katakan bentuk wajah dan kotoran yang melekat diwajahnya dengan lembut dan tanpa suara. Sehingga orang yang bercermin kepadanya secara reflek akan memperbaiki penampilannya dan membersihkan kotoran yang ada pada dirinya. Itu artinya seorang mu’min yang dijadikan cermin oleh mu’min yang lainnya, harus bersikap lembut dalam menyampaikan nasehat dan tidak kasar serta keras hati terhadap saudaranya yang sedang dinasehati. Alloh SWT berfirman dalam Al Qur’an : “Maka disebabkan rahmat Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati, tentulah mereka men-jauhkan diri dari sekelilingmu....” (QS. Ali Imron : 159).
Kedua, pandai menyimpan rahasia.
Watak cermin adalah tidak pernah menceritakan bentuk wajah orang yang bercermin di hari kemarin kepada orang yang berdiri dihadapannya, sekalipun ia dipecahkan. Artinya seorang mu’min tidak boleh menceritakan aib orang yang telah meminta nasehat kepada dia kemarin kepada orang lain Karena menceritakan aib orang lain yang telah meminta nasehat padanya adalah dilarang Alloh dan merupakan bentuk khianat. Alloh SWT berfirman ; “.. dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..” (QS. Al Hujurot : 12). Menutupi aurat dan aib seorang muslim adalah keharusan dan dengan itu Alloh akan menutup aibnya kelak dihari kiamat. “Tiada seorang yang menutupi aib (kejelekan) orang didunia, melainkan Alloh akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Muslim). Sikap yang baik dalam hal ini adalah diam jika tidak bisa berkata baik dan benar, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ; “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau dia diam.” (HR. Bukhari- Muslim).
Ketiga, tidak pilih kasih.
Sebuah cermin tidak pernah menolak siapapun orang yang bercermin kepadanya. Baik orang yang ganteng, buruk, pria, wanita, kaya, miskin, dewasa, anak-anak dan seterusnya. Pendek kata seorang mu’min tidak boleh pilih kasih dalam memberikan nasihat ataupun cerminan terhadap saudaranya, karena manusia tidak terkasta atau terkotak-kotak. Manusia adalah sama derajatnya, yang membedakannya adalah taqwanya. “...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu...” (QS. Al Hujurot : 13)
Keempat, setia setiap saat.
Cermin adalah sebuah benda yang siap dipakai setiap saat dan selalu menanti siapa yang akan bercermin kepadanya dengan penuh kesetiaan dan tanpa merasa bosan maupun mengeluh. Artinya seorang mu’min harus mampu menjadikan dirinya sebagai cermin yang tak pernah bosan atau mengeluh terhadap setiap permasalahan orang-orang yang meminta nasehat kepadanya
Kelima, sabar dan telaten.
Cermin tidak pernah protes ataupun marah terhadap berbagai gaya maupun tingkah orang yang berdiri dihadapannya ataupun enggan untuk menampilkan wajah orang tersebut. Ia dengan penuh kesabaran melayani setiap orang dengan berbagai karakternya. Hal ini berarti seorang mu’min harus menjadikan dirinya sebagai orang yang sabar dan harus memahamkan dirinya bahwa setiap orang tidaklah sama karakternya, sehingga ia akan berusaha untuk memahami setiap permasalahan dengan lebih sabar dan telaten. Mengenai keutamaan orang-orang yang sabar, Alloh SWT telah berfirman dalam Al Qur’an : “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Alloh tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Hud : 115)“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”(QS. Az Zumar : 10). Dengan sikap sabar ini Alloh SWT akan meng-anugerahkan sifat-sifat yang baik dan keberuntungan yang besar terhadap kita.
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”(QS. Fushshilat : 35)
Keenam, terus terang
Diantara karakter cermin yang lainnya adalah keterbukaan dan terus terang dalam memunculkan bentuk orang yang bercermin. Artinya ia tidak pernah merubah wajah yang ganteng menjadi jelek dan sebaliknya, serta tidak pula menampakkan hal hal lain, tapi yang ditampakkan adalah hakikat dan kenyataan. Dalam hal ini cermin mengajarkan jangan sampai mengatakan sesuatu yang bertolak belakang terhadap orang yang sedang dinasehati, tetapi harus mengatakan yang sebenarnya dan ada pada orang tersebut. Tidak asal orang tersebut senang.
Gambaran diatas merupakan beberapa karakter khusus sebuah cermin, yang bentuknya mustahil ada pada diri manusia, karena manusia bukanlah cermin. Namun sifat-sifat cermin itulah yang harus ditiru dan diikuti oleh setiap mu’min agar ia mampu menjadi cermin bagi mu’min yang lainnya. Wallahu a’lam bishshowwab. (Az)

Kamis, September 03, 2009

Musibah ini Ujian atau Adzab?


Brrrggg....sore itu Rabu tanggal 1 September 2009 kurang lebih pukul 14.55 WIB telah terjadi gempa tektonik berkekuatan 7,3 Skala Richter yang berpusat di Samudera Indonesia di kawasan Tasikmalaya. Getaran gempa tersebut terasa sampai seluruh wilayah Jawa Barat, Banten, Jakarta, bahkan hingga wilayah Semarang Jawa tengah. Kontan kejadian tersebut membuat masyarakat panik. Ada yang berlarian ke sana kemari, yang keluar dari salon, cukurannya belum selesai, bahkan saking paniknya ada yang keluar rumah gak sempat pakai celana, ada pasien lari keluar RS sambil membawa sendiri botol infusnya, gedung-gedung banyak yang retak, rumah-rumah roboh,korban jiwa mulai berjatuhan, korban material sudah tak terhitung, ribuan bangunan rusak berat, termasuk fasilitas komunikasi, penerangan, dan lain-lain. Rasanya masih segar ingatan dahsyatnya musibah tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 yang Masya Alloh...luar biasa korban jiwa dan material, tahun 2005 terjadi gempa besar yang melanda Yogyakarta, dengan korban jiwa dan material yang juga cukup besar. Setiap kali musibah besar menimpa kita, negeri ini menangis, meratap, mohon ampun pada Alloh...namun Yaa Alloh..setelah berlalu, banyak yang kembali lalai, seolah tak pernah ada hal-hal yang diambil pelajaran dari kajadian-kejadian tersebut. Belum lagi bencana-bencana lain seperti musibah transportasi, banjir, kriminalitas dengan modus operandi baru, munculnya aliran-aliran sesat, terorisme berikut fitnah yang menimpa ummat ini. Sementara para pemimpin sedang berselisih bagaimana mengelola negeri ini, para politisi ramai-ramai berebut pengaruh dan posisi, di sisi lain kesenjangan ekonomi yang makin melebar membuat sebagian orang tidak (kuat menahan) sabar memilih jalan pintas demi perut yang lapar atau memang ada juga yang rakus..

Saya kadang merasa kita ini seperti anak bandel yang ketika mendapatkan hukuman dari ortu kita, tobat-tobat minta ampun, tapi begitu selesai yaa ngulangi lagi kelalaian-kelalaian yang sama, begituu terus. Apa kita ini seperti orang bebal yang sudah nggak mempan lagi peringatan atau nasihat, bahkan dari Alloh SWT sendiri, Yang Menghidupkan dan Mematikan kita? Yang Memberi Rizqi kita? Saya yakin sekali bahwa Alloh sangat sayang pada kita (bahkan Kasih SayangNYa melebihi kemurkaanNya), sehingga sebandel apapun kita masih diberi peringatan dengan caraNya..sudah tahu kalo posisi geografis negeri ini di atas pertemuan dua lempeng benua Austro - Asia(demikian kata ahli geologi) sehingga tentu potensi terjadi gerakan lempeng kerak bumi sangat besar yang efeknya yaa gempa itu, namun kelakuan kita ini terlalu berani meremehkan, bahkan menantang Alloh, setidaknya lalai (ma'af kalau kata-kata saya agak 'lebay' ya?...). Saya juga yakin Sabda Nabi saw, “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dgn besarnya ujian, dan
sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya” (At-Tirmidzi). ”Tidaklah musibah menimpa seorang... mukmin berupa penderitaan, kesusahan, penyakit, kesedihan bahkan kegelisahan, kecuali Allah menghapuskan
kesalahannya” (Muslim)...
Namun jika terlalu banyak kedzoliman maka bisa jadi yang terjadi merupakan apa yang Alloh firmankan: "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka
sedang tidur?Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Saya berharap rahmat dan hidayah di bulan Ramadhon ini mampu menembus relung hati orang-orang masih terlupa, mudah-mudahan mushibah ini membawa kebaikan, penyadaran manusia kepada Penciptanya. Semoga saja...

Senin, Mei 18, 2009

RAHASIA DAHSYATNYA SEDEKAH

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya
yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi,
memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau
seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak
buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap
ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya
sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan
hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand
penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba
menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya.

Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.
Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini
terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih
berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan
main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita
ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil
wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi
sebuah hotel di Bandung. Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang
ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau
kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk
selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa
dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu
menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"
Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.
"Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai
penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA
"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah
orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9
bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah,
sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu
bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).
Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya,
sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan
dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun
ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit
sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya,
padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.
Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu
ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah." Beliau
mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA
"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah
bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu
dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa
mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah
melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita
dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya,
keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.
Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena
saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu
dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas,
lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan
lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang
dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil
menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu,
akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan
menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan
Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.
Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya,
bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan
menutup pintu rejekinya sendiri.
Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau
jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan
selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua
tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang
berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA
"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak
disangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia
ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu
cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya."
"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan
memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" , saya
menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).
"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang
tidak diduga-duga? ," tanya beliau.
"Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa,
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan
mengirim rejeki itu datang untuk kita.
"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau
ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini
membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki
yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah
Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."
"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.
"Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin
dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika
Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."
"Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan
kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau
pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang
katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya
lagi.
"Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau
Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia
itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan
yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya
itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah
yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian
Anda."

RAHASIA KEEMPAT
Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak
menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang
begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari
empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.
"Yang keempat nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita".
Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita
membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan
biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.
"Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan
hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi
meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan
berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di
kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya,
dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil."
"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.
"Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya
jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain
pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan,
apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat,
pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan
berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu,
Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. "
Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.
"Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya
banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau.
Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela.
Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh
karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya
ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.
Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di
Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan
1 anak perempuan.
Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....
++++++++++++ +++++++++ +++++
++++++++++++ +++++++

KEDAHSYATAN SEDEKAH
Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan
rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir
itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya
hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!
Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang
disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat
perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,
Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun
bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah
diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat
terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.
Kemudian mereka bertanya, 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu
yang lebih kuat dari pada gunung?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi'.
Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu api'.
Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu air'.
'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?'
tanya para malaikat.
Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin'.
Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'.
Allah yang Mahagagah menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang
mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya
tidak mengetahuinya' ." (Sebagaimana telah diceritakan seorang sahabat)